Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tongkol Jagung Untuk Pakan Ternak Sapi Potong

Tongkol Jagung Untuk Pakan Ternak Sapi Potong

Tongkol jagung sebagai pakan ternak sudah jamak untuk penggemukan di lakukan para petani. Pada umumnya pakan tongkol di berikan apa adanya tanpa perlakuan khusus, padahal hanya dengan perlakuan sederhana dapat meningkatkan kualitas gizi tongkol jagung tersebut.

Fermentasi secara sederhana dapat meningkatkan kualitas gizi tongkol jagung sehingga layak sebagai pakan sapi potong. Pertambahan bobot badan harian (PBBH) sapi mencapai 0,88 kg/ekor/hari, dibanding PBBH ternak yang mendapat pakan sesuai kebiasaan petani, yang hanya mencapai 0,5 kg/ekor/hari.

Tongkol jagung merupakan sumber serat sebagai bahan pakan alternatif.

Kadar nutrisi tongkol jagung meliputi :
  • kadar air 29,54%
  • bahan kering 70,45%
  • protein kasar 2,67%
  • serat kasar 46,52% dalam 100% bahan kering (BK).

Meski berpotensi pakan ternak ruminansia, hasil samping ini belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini mungkin karena kandungan proteinnya rendah (< 4,64%), sedangan lignin (15,8%) dan selulosenya tinggi.

Upaya meningkatkan kualitas tongkol jagung sebagai pakan ruminansia dapat dilakukan dengan memberikan perlakuan fisik (pencacahan), kimiawi (amoniasi), biologi (fermentasi menggunakan stater mikroba selulotik) atau gabungan perlakuan tersebut.

Petani/peternak dapat mengolah tongkol jagung melalui fermentasi untuk menurunkan kadar serat kasar serta meningkatkan kecernaan dan kadar protein kasar. Tongkol jagung digiling atau dicacah sehingga ukurannya menjadi lebih kecil dan kecernaan pakan meningkat. Tongkol jagung digiling kemudian difermentasi secara aerob dengan menggunakan larutan stater (Trichoderma). Proses fermentasi berlangsung 3 hari, dan selanjutnya tongkol jagung fermentasi dapat diberikan kepada ternak ruminansia.

Selain pemanfaatannya yang belum optimal, tongkol jagung juga mudah terkontaminasi kapang Aspergilus flavusyang memproduksi senyawa beracun. Karena itu, perlu dicari metode pengawetan tongkol jagung agar bisa disimpan dalam jangka waktu lama sekaligus digunakan sebagai pakan alternatif.

Tongkol jagung yang belum diolah hanya memiliki kandungan protein sekitar 2,94 % dengan kadar lignin 5,2 %, selulosa yang tinggi hingga 30 %, dan tingkat kecernaan sampai 40 %. Sedangkan untuk rumput memiliki kandungan protein sekitar 6 %.
Kebutuhan protein ternak minimal dikisaran 6–8 %. Karena itu harus dilakukan beberapa perlakuan untuk meningkatkan nutrisi dari limbah tongkol jagung.

Ada 3 metode yang dilakukan untuk meningkatkan nilai nutrisi maupun palatabilitas (kemampuan untuk mencerna) yakni : proses ensilasi, amoniasi, atau fermentasi.

  1. Ensilasi. Untuk proses ensilasi atau pengolahan silase tongkol jagung dilakukan dengan melembabkan tongkol jagung yang telah digiling dicampurkan dengan air sampai di dapat kadar air campuran 60 % dengan bahan kering sekitar 30 – 40 %.Lalu tongkol jagung dimasukkan dalam plastik dan dipadatkan pada kondisi kedap udara dan disimpan di temperatur ruang selama tiga minggu. "Dalam proses ensilasi hanya mengubah bentuk karbohidrat yang ada di tongkol jagung menjadi asam laktat, sehingga hanya tingkat palatabilitasnya saja yang naik namun nutrisinya tidak naik. Kadar proteinnya pun hanya naik sedikit menjadi 4,4 %.
  2. Amoniasi. Lain halnya dengan proses amoniasi yang mampu meningkatkan kandungan nutrisi dari limbah tongkol jagung hingga 9 %. Proses amoniasi dilakukan dengan cara tongkol jagung digiling kemudian dilembapkan dengan air untuk mendapatkan kadar air 40 % atau 60 % bahan kering. Proses ini merupakan kebalikan dari proses ensilasi yang memanfaatkan 60 % air dan 40 % bahan kering.Air yang digunakan untuk melembabkan tongkol jagung tersebut sebelumnya telah ditambahkan urea 3 % dari bobot kering tongkol jagung. Campuran diaduk merata kemudian disimpan dalam plastik selama 3 minggu dalam keadaan kedap udara pada suhu ruangan. Setelah 3 minggu tongkol jagung dikeluarkan dari dalam plastik dan dibiarkan semalaman di udara terbuka untuk menguapkan sisa amonia yang tidak terikat dengan tongkol jagung.
  3. Fermentasi. Sedangkan untuk proses fermentasi dilakukan dengan menggunakan kapang Aspergilus niger sebagai inokulan. Prosesnya tongkol jagung digiling dilembabkan dengan air untuk mendapatkan kadar air 50 %. Kemudian dikukus selama 30 menit pada kondisi air mendidih untuk proses sterilisasi dan didinginkan. Setelah dingin tongkol jagung dicampur dengan starter suspensi kapang sebanyak 0,5 g per 100 g tongkol jagung. Masing-masing campuran diaduk sampai merata dan dimasukkan dalam loyang plastik (tray).Selanjutnya difermentasi pada suhu ruang secara aerob selama empat hari, kemudian dilakukan proses enzimatis selama dua hari dengan cara dipadatkan dalam kantong plastik dengan kondisi hampa udara. "Untuk proses fermentasi alurnya lebih panjang karena harus dikukus dulu dan memerlukan biaya yang lebih besar namun lebih ramah lingkungan ketimbang proses amoniasi,"

Kesimpulan.

Dengan memberikan perlakuan tambahan pada tongkol jagung dapat menambahkan nilai gizi dan dapat meningkatkan pertumbuhan berat sapi tersebut.

Selamat mencoba