Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengaruh Iklim Pada Kualitas Jeruk

Pengaruh Iklim Pada Kualitas Jeruk

Buah jeruk dapat tumbuh dan diusahakan petani di dataran rendah hingga dataran tinggi dengan varietas yang berbeda dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat berpendapatan rendah hingga berpenghasilan tinggi. Sebagian besar buah jeruk yang dihasilkan dari seluruh senntra produksi diperdagangkan dan dikonsumsi dalam bentuk segar.

Dalam skala rumah tangga, kulit buah jeruk (jeruk besar pamelo) di Jawa Timur dan Jawa Barat, telah diolah menjadi manisan yang banyak digemari masyarakat. Salah satu UKM di Jawa Barat mengekspor jus jeruk nipis ke Jepang. Beradasarkan data BPS, industri pengolahan jeruk di Indonesia telah berhasil mengekspor 62,3 ton frozen jus, 49,9 ton orange jus siap saji. Selain itu buah jeruk dapat dimanfaatkan dalam bentuk olahan yang berasal dari ampas dan bijinya sebagai makanan ternak dan minyak. Pertumbuhan tanaman jeruk dan mutu jeruk selain dipengaruhi oleh kualitas bibit, tanah juga dipengaruhi oleh persyaratan tumbuhnya diantaranya iklim.

Persyaratan tumbuh

Iklim, tanaman jeruk memerlukan 6-9 bulan basah (musim hujan), curah hujan 1000-2000 mm/tahun merata sepanjang tahun, perlu air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus. Temperatur optimal yang dibutuhkan antara 25-30 derajat Celsius dengan kelembaban optimum sekitar 70-80%. Kecepatan angin tidak lebih dari 40% (karena bila lebih dari 40% akan merontokkan bunga dan buah). Jeruk memerlukan sinar matahari langsung (tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari)

Jenis tanah, jenis tanah yang cocok adalah andosol dan latosol dengan derajat keasaman tanah (pH tanah) 5,5-6,5 dengan kandungan garam 10%. Kedalaman air tanah 150-200 cm dibawah permukaan tanah. Pada musim kemarau kedalaman air 150 cm dan pada musim hujan 50 cm.

Ketinggian, jeruk dapat tumbuh pada ketinggian 0-1.200 meter diatas permukaan air laut.

Pengaruh iklim terhadap mutu jeruk

Iklim salah satu faktor yang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan tanaman baik secara kualitas maupun kuantitas jeruk. Unsur-unsur iklim tersebut antara lain temparatur, intensitas cahaya dan curah hujan/ketersedaan air yang sangat berpengaruh terhadap proses metabolisme tanaman.

Temperatur, perubahan temperatur udara sangat berperan terhadap aktivasi energi maupun inaktivasi enzim. Temperatur yang terlalu tinggi akan menurunkan cadangan makanan serta kandungan vitamin. Sebaliknya temperatur yang rendah mempengaruhi pewarnaan dan kerusakan buah.

Intensitas cahaya. yang tinggi akan meningkatkan vitamin C, B1 dan kandungan beta karotin pada buah. Intensitas cahaya sepanjang fase pematangan pada buah juga berpengaruh terhadap proses pewarnaan buah.

Curah hujan/ketersediaan air. Jumlah curah hujan dan distribusinya sangat menentukan ketersediaan air bagi tanaman, karena air berfungsi dalam proses pengisian sel tanaman/buah, pelarut zat kimia/padat yang diperlukan oleh tanaman dan sebagai pengendali suhu tanaman.

Curah hujan pada ketinggian tempat lebih dari 1.000 meter diatas permukaan laut: curah hujan tertinggi pada periode normal (frekuensi tidak kurang dari 25% dan tidak lebih dari 75%) terjadi pada bulan Januari antara 431-583,5 mm. Sedangkan curah hujan terendah pada periode normal terjadi pada bulan Juli antara 0-162 mm. Rata-rata curah hujan tahunan, curah hujan periode normal berkisar antara 2.783,6-3.684 mm. Periode basah ditandai dengan frekuensi 0% untuk peluang tidak terjadi hujan mulai Desember sampai Februari. Sedangkan hujan sering tidak terjadi pada bulan Juni sampai dengan September dengan frekuensi berkisar antara 22-28%.

Curah hujan pada ketinggian kurang dari 1.000 meter diatas permukaan laut: curah hujan tertinggi pada periode normal terjadi pada bulan Januari antara 309,4-526 mm. Sedangkan curah hujan terendah pada periode normal terjadi pada bulan Agustus antara 4-38,7 mm. Curah hujan periode normal tahunan berkisar antara 1.782,4-3.698 mm. Periode basah relatif lebih pendek bila dibandingkan dengan ketinggian diatas 1.000 meter diatas permukaan laut yaitu hanya terjadi pada bulan Januari dan Februari. Hujan sering tidak terjadi pada bulan Juni, Juli dan Agustus.

Berdasarkan informasi tersebut, maka dapat dipilih masa tanam terbaik sehingga resiko terjadinya cekaman air dapat diminimalkan atau paling tidak dapat diupayakan agar cekaman air itu tidak terjadi pada fase kritis tanaman. Untuk penanaman jeruk yang baru pada ketinggian kurang dari 1.000 meter diatas permukaan laut sebaiknya ditanam pada pertengahan Desember karena cukup air selain itu penting untuk fase pembungaan sampai pembentukan buah.

Faktor-faktor ini semua akan berpengaruh pada kualitas buah yang meliputi rasa, kenampakan, ketegasan warna, tekstur, kandungan nutrisi dan konsentrasi larutan yang dikandung dalam buah.

Contoh dari hasil penelitian tentang pengaruh iklim terhadap jeruk keprok di Tawangmangu, menunjukkan bahwa di daerah yang beriklim berbeda akan menghasilkan kualitas yang berbeda yang dapat ditunjukkan sebagai berikut:
  1. Jeruk keprok yang ditanam di Kecamatan Tawangmangu dengan ketinggian 1.200-1.400 diatas permukaan air laut, mempunyai iklim sembilan bulan basah dan dua bulan kering dengan curah hujan tahunan rata-rata 3.166 mm menghasilkan jeruk dengan rasa lebih enak, lebih manis dan mempunyai kandungan juice dan kadar air yang lebih tinggi.
  2. Jeruk keprok yang ditanam di Kecamatan Jatiyoso dan Ngargoyoso dengan ketinggian antara 700-800 diatas permukaan air laut, mempunyai iklim delapan bulan basah dan tiga bulan kering dengan curah hujan tahunan rata-rata 2.715 mm, suhu rata-rata bulanan terendah terjadi pada bulan Desember sebesar 20,6 derajat Celcius dan tertinggi pada bulan april sebesar 23,5 derajat Celcius. Kelembaban rata-rata bulanan berkisar antara 72,2% pada bulan Agustus sampai 94,3% pada bulan Desember menghasilkan jeruk dengan rasa kurang enak dan kurang manis dan mempunyai kandungan juice dan kadar air yang kurang.