Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teknologi Produksi Kedelai Di Lahan Sawah

Kedelai umumnya ditanam pada musim kemarau setelah pertanaman padi di lahan sawah. Bagaimana Teknologi Produksi Kedelai di lahan sawah agar dapat berproduksi maksimal secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Varietas dan Benih Unggul

Semua varietas unggul sesuai untuk lahan sawah, dan pilih varietas unggul yang memenuhi sifat-sifat yang diinginkan. Gunakan benih murni dan bermutu tinggi.

2. Penyiapan lahan

  • Tanah bekas pertanaman padi tidak perlu diolah (tanpa olah tanah = TOT), namun jerami padi perlu dipotong pendek.
  • Saluran drainase/irigasi dibuat dengan kedalaman 25–30 cm dan lebar 20 cm setiap 3–4 m. Saluran ini berfungsi untuk mengurangi kelebihan air bila lahan terlalu becek, dan sebagai saluran irigasi pada saat tanaman perlu tambahan air.
  • Pada lahan yang baru pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dicampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulan rhizobium (seperti Rhizoplus atau Legin), dapat digunakan tanah bekas tanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman.

3. Penanaman

  • Benih kedelai ditanam dengan tugal, kedalaman 2–3 cm.
  • Jarak tanam: 40 cm x 10–15 cm, 2 biji/lubang.
  • Untuk menghindari kekurangan air, sebaiknya kedelai ditanam tidak lebih dari 7 hari setelah tanaman padi dipanen.

4. Pemupukan

a. Pada sawah yang subur

Pada sawah yang subur atau bekas padi yang dipupuk dengan dosis tinggi tidak perlu tambahan pupuk NPK.

b. Pada sawah yang kurang subur

  • Tanpa diberi jerami atau pupuk kandang maka dapat dipupuk dengan Urea (50-75 kg/ha); SP-36 (75-100 kg/ha) dan KCl (100 kg/ha).
  • Diberi jerami sebanyak 5 ton/ha, maka dapat dipupuk dengan Urea ( 50 kg/ha); SP-36 ( 75-100 kg/ha) dan KCl ( 75 kg/ha).
  • Diberi pupuk kandang sebanyak 2 ton/ha, maka dapat dipupuk dengan Urea ( 25 kg/ha); SP-36 (50-75 kg/ha) dan KCl (75 kg/ha).

c. Pada sawah yang cukup subur

  • Tanpa diberi jerami atau pupuk kandang maka dapat dipupuk dengan Urea (25-50 kg/ha); SP-36 (50-75 kg/ha) dan KCl (100 kg/ha).
  • Diberi jerami sebanyak 5 ton/ha, maka dapat dipupuk dengan Urea ( 25 kg/ha); SP-36 (50-75 kg/ha) dan KCl (75 kg/ha).
  • Diberi pupuk kandang sebanyak 2 ton/ha, maka dapat dipupuk dengan Urea (25 kg/ha); SP-36 (50 kg/ha) dan KCl (50 kg/ha).

5. Penggunaan mulsa jerami padi

  • Bila dianggap perlu gunakan jerami sebanyak 5 ton/ha sebagai mulsa dengan cara dihamparkan merata, ketebalan < 10 cm.
  • Mulsa bermanfaat untuk mengurangi pertumbuhan gulma, sehingga penyiangan cukup satu kali, yakni sebelum tanaman berbunga. Penggunaan mulsa juga dapat menekan serangan lalat bibit, dan kehilangan air tanah.
  • Untuk daerah yang tidak banyak gangguan gulma dan tidak berpotensi menimbulkan kebakaran, maka jerami boleh dibakar sebagai sumber pupuk K. Pembakaran jerami segera setelah kedelai ditanam tugal, apabila dilakukan dengan tepat, dapat lebih menyeragamkan pertumbuhan awal kedelai.

6. Pengairan

Umumnya budidaya kedelai tidak perlu pengairan, tetapi tanaman kedelai sangat peka terhadap kekurangan air pada awal pertumbuhan, pada umur 15–21 hari, saat berbunga (umur 25–35 hari), dan saat pengisian polong (umur 55–70 hari). Pada fase-fase tersebut tanaman harus dijaga agar tidak kekeringan.

7. Panen dan Pasca Panen

  • Panen dilakukan apabila 95% polong pada batang utama telah berwarna kuning kecoklatan.
  • Hasil panenan segera dijemur hingga kering kemudian dikupas dan butir biji dipisahkan dari kotoran/sisa kulit polong kemudian dijemur kembali hingga kadar air biji mencapai 10-12% saat disimpan;
  • Untuk keperluan benih, biji kedelai perlu dikeringkan lagi hingga kadar air mencapai 9 - 10 %, lalu disimpan dalam kantong plastik tebal.

Sumber :

  1. Didik Harnowo, 2013, Teknologi Produksi Kedelai, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Kayu, dan Ubi Jalar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian.
  2. http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id