Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teknologi Perbanyakan Bibit Pisang Mas Kirana

Teknologi Perbanyakan Bibit Pisang Mas Kirana
Pisang merupakan komoditas yang sudah dikenal masyarakat dan mempunyai banyak kegunaan. Buah pisang dapat digunakan sebagai buah meja atau bahan baku olahan. Pisang mempunyai banyak jenis dan salah satu yang banyak dibudidayakan petani adalah pisang mas. Ukuran pisang mas mencapai + 11,5 cm dengan berat + 50 gram/buah. Daging buahnya berwarna putih kekuningan dan mempunyai rasa yang manis. Di kalangan petani, biasanya pisang mas diusahakan dalam skala kecil dan tidak dibudidayakan secara intensif.

Dalam rangka meningkatkan produksi dan kualitas buah pisang, selain teknik budidaya maka ketersediaan bibit bermutu merupakan salah satu faktor penting. Bibit bermutu adalah bibit yang sifat unggulnya masih sama dengan induknya, sehat dan dapat menjamin produksi yang tinggi dengan kualitas yang baik. Pengembangan pisang mas dalam skala besar, memerlukan teknik pembibitan yang benar.

Teknologi Perbanyakan Bibit Pisang Mas Kirana

Bahan yang digunakan untuk bibit adalah anakan/bonggol pisang, vaselin, media tumbuh berupa tanah, pasir, pupuk kandang, polybag, pestisida, sedangkan peralatan yang digunakan antara lain linggis, pisau/kapak, ember, kompor, panic/drum dan thermometer untuk pengukur suhu air.

Pemilihan Pohon Induk.

Pilihlah pohon induk dengan ketentuan sebagai berikut :
  1. varietasnya unggul dan jelas asalnya
  2. produksinya tinggi dengan kualitas buah yang baik
  3. tanaman dalam kondisi sehat
  4. pertumbuhan tanaman normal.
Pemilihan Bahan Bibit Tanaman.

Ada dua cara untuk memilih bahan yang akan digunakan sebagai bibit, yaitu :
  1. menggunakan bonggol dari anakan yang berumur 3-8 bulan atau tanaman telah memasuki fase pembungaan dengan tinggi antara 151-175 cm, diameter bonggol + 20 cm (teknologi mati meristem)
  2. menggunakan bonggol sehat dari sisa tanaman yang telah dipanen (teknologi belah bonggol (bit)).
Teknologi mati merestem

Langkah kerja :
  1. Anakan dipisahkan dari induknya, dibersihkan dari akar dan tanah
  2. Batang anakan dipotong dan disisakan 20 cm dari pangkal batang
  3. Semua pelepah daun dikupas satu persatu sampai bagian merestem
  4. Matikan bagian merestem (titik tumbuh) dengan cara melubangi bagian tengah batang sedalam + 2 cm kemudian beri vaselin/lilin yang telah dicairkan.
Teknologi belah bonggol (Bit)

Langkah kerja :
  1. Bonggol tanaman dibongkar dan dibersihkan dari akar dan tanah
  2. Bonggol dipotong-potong dengan ukuran 10X10X10 cm
  3. Setiap belahan bonggol harus mempunyai minimum satu mata bernas. Gunakan bonggol yang berwarna putih bersih.
Sterilisasi Bahan

Sterilisasi adalah untuk mencegah terbawanya hama/penyakit dari tempat pengambilan bonggol.

Tahap sterilisasi :
  1. Siapkan air secukupnya dalam panci atau drum dan panaskan sampai suhunya 500 C (suam-suam kuku)
  2. Larutkan pestisida sesuai dosis anjuran ke dalam air tersebut dan aduklah merata
  3. Rendamlah bit atau bonggol mati merestem ke dalam larutan selama 15-20 menit
  4. Angkatlah bit dari larutan dan tiriskan pada tempat yang teduh.
Pembuatan Bedengan dan Persemaian

Bedengan dibuat sesuai tempat dengan lebar + 20 cm dengan media pasir. Buatlah atap pelindung bedengan setinggi + 75 cm, dibuat dari anyaman daun kelapa atau bahan lain. Bahan bibit yang telah ditiriskan disemaikan pada bedengan dengan jarak tanam 10X20 cm. Bonggol/bit ditanam dengan mata tunas menghadap ke atas dan jangan sampai tertutup pasir. Penyiaraman dilakukan pada pagi dan sore hari.

Media Pemisahan

Tahap selanjutnya adalah penyiapan media pemisahan. Media pemisahan dibuat dari campuran tanah dan pupuk kandang = 1:1. Masukkan media ke polybag (diameter 20 cm, tinggi 25 cm). Calon bibit dari media semaian yang telah berdaun 2 dipindahkan ke media tersebut. Teknologi mati merestem mampu menghasilkan lebih dari satu calon tanaman baru. Bibit yang telah ditanam di polybag siap dipindah ke lapangan jika sudah terbentuk daun baru dengan tinggi tanaman + 75 cm.