Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Sederhana Pengolahan Limbah Kulit Buah Kakao Untuk Pakan Ternak

Pengolahan Limbah Kulit Buah Kakao Untuk Pakan Ternak
Kulit buah kakao mempunyai nilai gizi yang cukup memadai untuk pakan ternak, yaitu 40 % serat, 87,4 % bahan kering, 7,10 % Protein, 0,67 % Ca dan 0,10 % P. Berdasarkan komposisi tersebut nutrisi tersebut tampak kandungan serat kasar pada kulit buah kakao sangat tinggi sementara kandungan serat kasar dapat diatasi dengan fermentasi menggunakan Aspergillus niger ataupun jenis fermentor lainnya, pada kulit buah kakao basah. Beberapa hasil uji coba fermentasi yang dilakukan terhadap bahan pakan tersebut dapat meningkatkan kandungan protein kulit buah kakao menjadi 15 – 17 % dan serat kasarnya turun dari 21 – 23% menjadi 10 – 11 %.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 20 – 40 % kulit buah kakao sebagai pengganti jagung tidak memberikan efek negatif terhadap pertumbuhan ternak. Pemberian sampai 100 g tepung kulit kakao pada ternak kambing justru memberi manfaat perhadap pertambahan bobot badan rata-rata 119 g per hari. Pemberian sampai 2 kg tepung kulit kakao pada sapi bali jantan dengan berat awal 240 kg dapat meningkatkan pertambahan berat badan 528 g per hari dibandingkan kontrol.

Pengalaman petani kakao yang berada di Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Bali, telah memanfaatkan kulit buah kakao yang diperoleh dari kebunnya sendiri, dipergunakan sebagai pakan ternak babi. Dari pengalaman dalam beternak babi dengan menggunakan pakan dari limbah kulit buah kakao yang sebelumnya difermentasi dengan menggunakan EM 4, pertumbuhan babi dapat berkembang dengan cepat.

Dan yang lebih menarik lagi bagai petani kakao tersebut, adalah dengan memberi pakan dari hasil fermentasi limbah kulit buah kakao, kandang babi sama sekali tidak berbau kotoran ternak, sehingga tidak mengganggu lingkungan masyarakat yang ada disekitar tempat tinggalnya.

Cara pengolahannya sangat sederhana dan tidak membutuhkan peralatan yang sulit dijangkau petani, dimana sebagian besar peralatan yang dibutuhkan pasti dimiliki oleh setiap petani. Ada pun langkah-langkah pembuatan pakan tersebut adalah sbb :

  1. Kulit buah kakao yang sudah diambil bijinya dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil. Atau dapat juga menggunakan mesin pencacah.
  2. Kulit yang sudah dipotong – potong tersebut dihaluskan dengan cara ditumbuk dengan menggunakan penumbuk (lesung). Penumbukannya tidak usah terlalu halus, yang penting kulit buah sudah hancur.
  3. Hasil tumbukan tersebut masukkan dalam ember, lalu dicampurkan dengan EM4 yang telah diencerkan.
  4. Ember tersebut ditutup dengan plastik kampil (karung kampil) dan biarkan 3 – 5 hari. Karung kampil harus bersih agar tidak terjadi kontaminasi oleh jenis mikroba lainnya. Dalam waktu 3 – 5 hari bahan tersebut akan sudah terfermentasi. Tanda fermentasi berhasil adalah kulit buah kakao tidak berbau busuk, melainkan berbau seperti tape.
  5. Hasil fermentasi siap digunakan sebagai pakan ternak babi. Bila memiliki banyak kulit buah kakao, maka pengolahan menjadi banyak, dan hasil fermentasi banyak. Untuk itu perlu dilakukan pengawetan hasil fermentasi tersebut, dengan cara, hasil fermentasi tersebut dijemur sampai kering.Bila sudah kering, lalu ditumbuk, agar butir-butir pakan ternak tersebut menjadi lebih kecil. Karena bila sudah kering yang tadinya pakan tersebut lembek, akan menjadi keras, sehingga perlu dihaluskan Untuk menghaluskan dapat dilakukan dengan cara menumbuk, atau menggunakan mesin penggiling.

Dengan membuat pakan seperti ini maka biaya pakan berupa dedak, ataupun makanan yang sudah jadi (polar) dapat dikurangi 50 – 60 %.

Sumber:

I Made Widiada, BP4K Kabupaten Tabanan, Bali