Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Pengendalian Hama Tikus

Cara Pengendalian Hama Tikus
Tikus sawah (Ratus argentiventer) termasuk hama yang relatif sulit dikendalikan. Perkembangbiakan dan mobilitas tikus yang cepat serta daya rusak pada tanaman padi yang cukup tinggi menyebabkan hama tikus selalu menjadi ancaman pada pertanaman padi. Kehilangan akibat serangan tikus sangat besar, karena menyerang tanaman sejak padi di persemaian hingga menjelang panen. Berkaitan dengan hal tersebut, maka upaya pengendalian untuk menekan populasi tikus harus dilakukan terus menerus mulai dari saat pratanam hingga menjelang panen dengan menggunakan berbagai teknik secara terpadu. Peran serta dan kerjasama masyarakat / kelompok tani, penentu kebijakan dan tokoh masyarakat juga diperlukan selama proses pengendalian hama tikus.

Kepadatan populasi tikus berkaitan dengan fase pertumbuhan tanaman padi. Serangan tikus dapat terjadi sejak di persemaian, pertanaman, sampai pasca panen. Pada persemaian sampai tanaman fase vegetatif, populasi tikus umumnya masih rendah dan kepadatan populasi meningkat pada fase generatif. Di lahan yang ditanami padi secara terus menerus (2 kali /tahun) puncak populasi akan terjadi 2 kali, yaitu pada saat tanaman fase generatif. Di lahan yang ditanami padi 1 kali / tahun, puncak populasi hanya terjadi 1 kali yaitu fase generatif.

Pada saat tanaman fase vegetatif, tikus hidup soliter dan di luar liang, sedang pada fase generatif tikus hidup berpasang-pasangan dan tinggal di dalam liang. Pada saat tanaman fase vegetatif, konstruksi liang dangkal dan tidak bercabang-cabang. Setelah fase generatif, liang dibuat lebih dalam, lebih panjang, bercabang-cabang dan mempunyai pintu lebih dari satu. Persawahan dengan pematang yang sempit (lebar < 30 cm) hanya sedikit digunakan sebagai liang.

Luas wilayah dan jarak jelajah harian tikus dipengaruhi oleh jumlah sumber pakan dan populasi tikus. Bila sumber pakan melimpah (fase generatif tanaman) jelajah hariannya pendek (50 – 125 m) dan bila sumber pakan sedikit (fase pengolahan tanah sampai dengan akhir fase vegetatif) jelajah harian panjang (100 – 200m). Migrasi tikus mencapai 1 – 2 km, tetapi bila daya dukung wilayah menjamin, tikus tidak akan bermigrasi. Untuk kelangsungan hidupnya tikus memerlukan pakan, air dan tempat persembunyian.

Ciri khas serangan tikus sawah adalah kerusakan tanaman dimulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, sehingga pada keadaan serangan berat hanya menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan. Keberadaan tikus di lapangan dapat diketahui dengan cara pengumpanan tanpa racun yang dipasang minimal sebanyak 20 titik umpan / ha atau pengamatan jejak dan jarak lintas tikus.

Cara Pengendalian Tikus dilihat dari Siklus Hidupnya

Melakukan pengendalian dengan cara yang tepat pada saat yang tepat sesuai fase kegiatan dalam usaha tani padi yang dikaitkan dengan siklus kehidupan tikus.
  1. Saat selepas panen sampai persiapan dan pengolahan tanah, Mengendalikan tikus pada saat selepas panen, karena tikus masih ada didalam gelengan dan sekitar petakan dengan jumlah rata-rata per lubang 25 – 30 ekor tikus, sementara makanan masih tersedia dari sisa panen berupa gabah yang tercecer dan pada tumpukan padi. Pada saat ini, pengendalian yang tepat adalah pengemposan dan gropyokan. Apabila tidak dilakukan pengendalian pada saat selepas panen ini , maka semua tikus yang ada dalam lubang akan tumbuh dewasa dan akan berkeliaran.
  2. Pengolahan tanah, Menjelang pengolahan tanah sebaiknya seluruh lahan dikeringkan, agar tikus yang masih tinggal di petakan dan galengan merasa kehausan. Pada saat itu gabah yang tertinggal dilapangan sudah tumbuh sehingga makanan untuk tikus mulai berkurang. Pengendalian yang tepat pada kondisi ini adalah pengumpanan dan gropyokan dimalam hari.
  3. Persemaian, Persemaian sebaiknya dipagar plastik yang dilengkapi dengan bubu perangkap tikus. Bubu perangkap tikus yang berukuran panjang 65 cm, lebar 24 cm dan tinggi 24 cm memiliki kapasitas 20 – 30 ekor/ malam tergantung banyaknya populasi tikus. Untuk 500 m2 persemaian cukup dipasang 4 bubu perangkap. Apabila sebelum tanam tidak dilakukan pengendalian, maka pada fase tanam sampai fase berikutnya akan terus terjadi serangan.
  4. Fase Vegetatif, Kondisi tanaman pada fase vegetatif adalah tanaman sudah rimbun/anakan maksimum; galengan kotor; tanaman merupakan makanan bagi tikus; fase awal tikus membuat lubang di galengan. Fase ini merupakan kondisi yang sangat sulit untuk mengadakan pengendalian yang efektif. Upaya pengendalian yang tepat adalah dengan pengumpanan menggunakan klerat dan memakai umpan pembawa ""yuyu"", tempatkan umpan pada jalan tikus lewat dan pasang pagar plastik dengan bubu perangkapnya.
  5. Fase generatif dan menjelang panen, Pada fase ini umumnya tikus pada fase beranak dan berada di dalam lubang. Kondisi pada fase generatif adalah makanan sudah tersedia dan galengan semakin kotor. Pengendalian untuk tikus yang sudah menetap dilubang dengan cara pengemposan.
  6. Panen, Apabila padi sudah berisi dan menguning, maka pengendalian yang paling tepat adalah dengan cara pengeringan total. Dalam keadaan kering, tikus akan mengurangi makan dan tikus tidak bisa makan kalau tidak disertai minum. Pengemposan dapat dilakukan untuk mengendalikan tikus yang ada dalam lubang.

Pengendalian Tikus dengan Pendekatan PHTT

  • Pengendalian tikus dilakukan dengan pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu) yaitu pendekatan pengendalian yang didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus dengan memanfaatkan semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama dan terkoordinasi dengan cakupan wilayah sasaran pengendalian dalam skala luas.
  • Kegiatan pengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan gropyok masal, sanitasi habitat, pemasangan TBS dan LTBS. Gropyok dan sanitasi dilakukan pada habitat-habitat tikus seperti sepanjang tanggul irigasi, pematang besar, tanggul jalan, dan batas sawah dengan perkampungan. Pemasangan bubu perangkap pada Persemaian dan pembuatan TBS (Trap Barrier System / Sistem Bubu Perangkap) dilakukan pada daerah endemik tikus untuk menekan populasi tikus pada awal musim tanam.
Kegiatan pengendalian yang sesuai dengan stadia pertumbuhan padi antara lain sebagai berikut :
  1. Prinsip kerja TBS adalah menarik tikus dari lingkungan sawah di sekitarnya (hingga radius 200 m) karena tikus tertarik padi yang ditanam lebih awal dan bunting lebih dahulu, sehingga dapat mengurangi populasi tikus sepanjang pertanaman.
  2. LTBS merupakan bentangan pagar plastik sepanjang minimal 100 m, dilengkapi bubu perangkap pada kedua sisinya secara berselang-seling sehingga mampu menangkap tikus dari dua arah (habitat dan sawah). Pemasangan LTBS dilakukan di dekat habitat tikus seperti tepi kampung, sepanjang tanggul irigasi, dan tanggul jalan/pematang besar. LTBS juga efektif menangkap tikus migran, yaitu dengan memasang LTBS pada jalur migrasi yang dilalui tikus sehingga tikus dapat diarahkan masuk bubu perangkap.
  3. Fumigasi paling efektif dilakukan pada saat tanaman padi stadia generatif. Pada periode tersebut, sebagian besar tikus sawah sedang berada dalam lubang untuk reproduksi. Metode tersebut terbukti efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubangnya. Rodentisida hanya digunakan apabila populasi tikus sangat tinggi, dan hanya akan efektif digunakan pada periode bera dan stadium padi awal vegetatif.
Pengendalian

Pengendalian tikus harus sudah dilakukan pada saat tanaman padi di persemaian sampai anakan maksimum. Cara-cara pengendalian yang diterapkan antara lain :
  1. Tanam Serentak. Berdasarkan daya jelajah migrasi tikus sampai 2 km, maka penanaman serentak hendaknya meliputi luas ± 300 ha. Keserentakan diartikan sebagai serentak memasuki fase generatif dengan selang waktu kurang dari 10 hari. Dengan tanam serentak, pertumbuhan populasi tikus dapat dideteksi lebih mudah dan upaya pengendaliannya juga dapat direncanakan dan dilakukan dengan lebih baik.
  2. Minimalisasi ukuran pematang dan tanggul, sedapat mungkin mempersempit ukuran pematang dan tanggul di sekitar persawahan sehingga mengurangi kesempatan sebagai tempat pembuatan liang. Semakin lebar pematang, semakin banyak dijumpai liang tikus.
  3. Sanitasi lahan. Tikus menyukai tempat kotor dan banyak semak, sehingga wajar bila disekitar sawah yang tidak bersih sering terjadi serangan tikus. Kebersihan lingkungan persawahan terhadap semak – semak dan rerumputan yang menjadi tempat persembunyian tikus sangat membantu menekan perkembangan populasi tikus. Pada saat setelah panen diusahakan menghindari penumpukan jerami di persawahan. tumpukan-tumpukan jerami ini menjadi tempat persembunyian dan liang tikus. Berdasarkan pengamatan lapang ditemukan bahwa puncak populasi terjadi pada saat 2 – 5 minggu setelah panen.
  4. Penanaman padi sistem jajar legowo. Dengan penanaman secara jajar legowo lahan relatif terbuka, sehingga hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya.
  5. Pemasangan bubu perangkap di persemaian. Persemaian mempunyai daya tarik yang kuat terhadap tikus, karena persemaian merupakan satu-satunya sumber makanan pada saat di persawahan tidak terdapat banyak makanan atau tanaman. Pada saat ini, populasi tikus masih sangat rendah, karena belum mengalami perkembangbiakan. Pemagaran persemaian menggunakan plastik yang dikombinasikan dengan bubu perangkap.TBS merupakan petak tanaman padi dengan ukuran minimal (20 x 20) m yang ditanam 3 minggu lebih awal dari tanaman di sekitarnya, dipagar dengan plastik setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1 m, jumlah bubu 2 – 4 buah setiap persemaian, dipasang pada sudut-sudut petakan persemaian.bubu dipasang di dalam petak persemaian, di depan lubang pada pagar plastik dengan lubang bubu tepat berhimpitan dengan lubang plastik. Di sekeliling petak persemaian di buat parit kecil dengan lebar 50 cm yang selalu terisi air untuk mencegah tikus menggali atau melubangi pagar plastik. Di depan pintu masuk (lubang bubu) di luar pagar plastik dibuat timbunan rerumputan atau tanah berumput, sebagai tempat tikus bertengger sebelum masuk lubang bubu sehingga tikus tidak curiga. Tikus yang tertangkap dalam bubu kemudian dimatikan. Pengendalian dengan pemasangan bubu perangkap diharapkan mampu menekan populasi awal serendah mungkin sehingga populasi tikus pada fase tanaman generatif tidak menimbulkan kerusakan yang tinggi.
  6. Pemasangan bubu perangkap di pertanaman. Pemasangan bubu perangkap terutama di tempat-tempat yang diduga rawan, jalur migrasi atau berbatasan dengan daerah yang merupakan tempat persembunyian tikus sepanjang 50 – 100 m. Jarak antara bubu perangkap 10 – 20 m. Pemasangan dilakukan segera setelah tanaman berumur 1 – 2 minggu. Dengan demikian tikus yang bermigrasi ke pertanaman tersebut terperangkap.
  7. Pemanfaatan tanaman perangkap. Tanaman perangkap dapat diupayakan dengan menanam lebih dahulu dibandingkan sekitarnya atau tanaman berumur genjah. Luas petakan tanaman perangkap 25 – 100 m2.sebagaimana sifat tikus akan memilih tanaman ini dari pada sekitarnya. Petak tanaman perangkap diberi pagar plastik dan dikombinasikan dengan bubu perangkap sebagaimana dilakukan pada persemaian. Berdasarkan perhitungan daya jelajah harian tikus ±100 – 200m, maka setiap ±13 ha dapat diwakili satu petak tanaman perangkap
  8. Pemanfaatan musuh alami. Pengendalian populasi tikus secara biologis yaitu dengan penggunaan predator dan parasit. Predator tikus antara lain anjing, musang, burung hantu, burung elang dan ular. Seekor burung hantu bisa memakan 10 ekor tikus dalam sehari. Sedangkan ular rata-rata hanya 1-2 ekor sehari, hewan menyusui pemangsa daging hanya 3-4 ekor sehari. Penggunaan parasit (virus, bakteri, protozoa), sebagai contoh penggunaan Salmonella enteriditis.
  9. Cara Fisik dan mekanik

    • Penggenangan lahan agar liang-liang aktif tikus tergenang sehingga anak – anak tikus yang berada di dalamnya mati
    • Gropyokan berupa pembongkaran liang dan menangkap serta mematikan tikus secara beramai-ramai. Gropyokan akan lebih efektif bila dilakukan dengan membentuk kelompok – kelompok kecil yang terdiri dari pencari dengan menandai liang aktif, pembongkaran liang dan pemburu tikus. Gropyokan dapat dilaksanakan pagi dan malam hari. Gropyokan sebaiknya dilakukan pada saat tidak ada pertanaman di sawah untuk mencegah kerusakan pertanaman.
    • Pemasangan bambu sebagai perangkap. Dipilih bambu dengan diameter ±10 cm dan panjang ±2,5 m. Semua buku – buku antar ruas yang menjadi penyekat lubang dihilangkan sehingga dapat tembus pandang dari kedua ujungnya. Bambu dipasang di pematang atau tempat lintasan tikus sejak tanaman padi ber umur ±1 bulan atau setelah ditemukan serangan. Sesuai dengan sifat tikus, bambu akan digunakan sebagai tempat bersembunyi tikus. Setiap 2 – 3 hari pada siang hari bambu diamati. Apabila terdapat tikus yang bersembunyi, dengan cepat tikus dimasukkan ke dalam karung melalui salah satu ujung bambu dan kemudian dimatikan.
    • Pemanfaatan Jaring. Pada saat tanaman mulai rimbun dan tikus masih belum masuk ke dalam liang dapat dimanfaatkan jaring untuk menangkap tikus. Jaring digantungkan pada tanaman pada lokasi yang telah ditentukan memanjang dan membentuk sudut di pinggir pematang. Secara beramai-ramai 10 – 15 orang melakukan penggiringan tikus yang ada di tengah persawahan ke arah jaring yang digantungkan. Tikus-tikus yang berada di tengah persawahan akan terjaring dan kemudian dimatikan.
    • Pengumpanan beracun
      Penggunaan fumigasi (emposan), yaitu pembakaran belerang dengan jerami akan menghasilkan senyawa SO2 dan Co yang toxic terhadap tikus. Sebaliknya fumigasi dilakukan saat pengolahan tanah dan fase anakan. Tindakan emposan sebaiknya dilaksanakan pada fase bera dan fase generativePenggunaan umpan beracun (rodentisida), baik dari jenis akut maupun yang kronis . Penggunaan umpan beracun sebaiknya dilaksanakan pada fase bera dan fase generativePenggunaan brodifacum, yakni antikoagulan yang dapat membunuh 100% dengan satu kali pemberianPenggunaan umpan dengan komposisi beras 15%, ubi kayu 25%, telur 10%, ubi jalar 3%, kepiting 15%, kelapa 12% .
  10. Pagar listrik. Tikus dapat dicegah masuk ke suatu lokasi tanaman dengan cara membuat pelindung dari kawat yang dialiri listrik. Dalam pemasangannya harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak membahayakan manusia. Sehingga dalam hal ini penggunaan arus listrik antara 12 – 24 Volt merupakan alternatif yang baik. Sumber listrik bisa diambil dari accu atau listrik yang diturunkan menggunakan adaptor. Selain aman juga hanya bersifat mengejutkan saja yang pada akhirnya akan membuat tikus jera memasuki areal persawahan.
  11. Pemagaran Plastik. sawah-sawah dipagari dengan plastik agar tikus tidak bisa menembus areal persawahan mereka. Namun penggunaan plastik ini selain mahal juga belum tentu efektif karena bisa saja tikus membuat jalan lubang yang melewati pagar plastik dari bawah. Sehingga perlu diperhatikan pemasangannya agar tikus tidak bisa membuat jalan pintas yang bisa dilalui dibawah plastik.
Dalam pengendalian hama tikus perlu memperhatikan beberapa hal yaitu:
  • Kedisiplinan para pelaku utama dalam praktek pengendalian sesuai siklus perkembangan tikus.
  • Melaksanakan tanam serempak dan melakukan sanitasi atau kebersihan lingkungan dan mempersempit ukuran tanggul.
  • Jangan mengembangkan sikap masa bodoh dan acuh tak acuh yang kalau melihat lubang tikus atau ada gejala serangan diluar garapan yang dimiliki, karena tikus memiliki daya jelajah semalam bisa mencapai 500 – 1000 m.
  • Perkembangan hama tikus yang sangat cepat. Dari sepasang tikus dalam setahun bisa mencapai 2000 ekor lebih.
  • Jangan membunuh predator seperti ular sawah, burung hantu (Tito alba), burung elang, gagak, musang sawah karena predator ini akan memangsa tikus. Apabila dari awal musim tanam sudah dilakukan pengendalian secara tepat pada saat yang tepat, maka pada fase-fase berikutnya tikus semakin berkurang, sehingga peluang keberhasilan panen semakin besar.